Cita-cita Soekarno untuk menjadikan NKRI sebagai “Kekuatan Asia”,
mendorong beliau untuk membuat blue print perencanaan pembangunan
Indonesia di masa pemerintahannya. Dalam pemikirannya kelak dikemudian
waktu, Asia Pasifik akan jadi pusat dunia paling maju, paling kaya dan
paling fenomenal dalam perjalanan sejarah peradaban modern manusia.
Bung Karno mencetuskan sebuah konsep perencanaan sebagai jawaban
terhadap situasi sosial masa tersebut. Soekarno menerapkan model
perencanaan berupa Nation Character Building. Character Building dalam
persepsi beliau bermakna upaya untuk membangkitkan kebanggaan dan
kecintaan terhadap bangsa sendiri dengan cara menggenjot pembangunan
secara fisik. Tiga prioritas utama dalam kerangka Character building
ialah pembangunan manusia, ekonomi dan fisik. Soekarno memilih
geopolitik sebagai tahapan awal pembentukan sebuah bangsa, geopolitik
sebagai alat modal kekayaan wilayah serta menjadikan geopolitik
sekaligus sebagai modal sosial dalam membentuk perubahan total terhadap
sejarah perkembangan masyarakat.
Visi Sukarno, di tahun 1975 Indonesia akan jadi bangsa terkuat di Asia
dan menjadi salah satu negara adikuasa dunia dalam konteks the big five.
Amerika Serikat, Inggris, Sovjet Uni dan Jepang. Jepang dan Cina
menurut Sukarno masih bisa dibawah Indonesia. Dan Indonesia jadi negara
terkuat di Asia memimpin tiga zona wilayah meliputi Asia Tenggara, Asia
Selatan dan Asia Timur. Berikut adalah beberapa rencana-rencana Soekarno
:
1. Menjadikan Palangkaraya sebagai Ibukota Negara
Awalnya Semaun yang membawa saran tentang perpindahan ibukota, Semaun
adalah konseptor besar atas tatanan ruang kota-kota satelit Sovjet Uni
di wilayah Asia Tengah. Hal ini kemudian disambut antusias oleh Bung
Karno, selama 1 tahun penuh Bung Karno mempelajari soal Kalimantan ini,
ia berkesimpulan "masa depan dunia adalah pangan, sumber minyak dan air.
Pertahanan militer bertumpu pada kekuatan Angkatan Udara."
Lalu pada satu malam di hadapan beberapa orang Bung Karno dengan
intuisinya mengambil mangkok putih di depan peta besar Kalimantan, ia
menaruh mangkok itu ke tengah-tengah peta, kemudian Sukarno berkata
dengan mata tajam ke arah yang mendengarnya "Itu Ibukota RI," Bung Karno
menunjuk satu peta di tepi sungai Kahayan. Lalu Bung Karno ke tepi
Sungai Kahayan dan melihat sebuah pasar yang bernama Pasar Pahandut,
dari Pasar inilah Bung Karno mengatakan "Ibukota RI dimulai dari sini"
ini sama persis dengan ucapan Daendels di depan Asisten Bupati Sumedang
saat membangun jalan darat Pos Selatan untuk gudang arsenal
Hindia-Perancis, ketika itu ia menunjuk satu tempat yang kita kenal
sekarang sebagai Bandung "Bandung jadi titik nol wilayah pertahanan
Jawa."
Bundaran Besar Palangkaraya
Pembangunan Jalan Palangkaraya dibuat lurus-lurus dan menuju satu
bunderan besar, dimaksudkan bila terjadi perang Inggris terjadi maka
jalan-jalan itu diperlebar sampai empat belas jalur untuk pendaratan
pesawat tempur Mig21 yang diborong dari Uni Sovjet. Pangdam Kaltim di
pertengahan tahun 1960-an Brigjen Hario Ketjik adalah salah satu fanatik
Sukarnois yang menerapkan rencana ini di Kalimantan Timur. Pembangunan
tata ruang kota Palangkaraya diatur amat teliti, sampai sekarang tata
ruang kota Palangkaraya paling rapi di Indonesia.
2. Perencanaan Pertahanan Nasional
Bung Karno membagi kekuatan pertahanan nasional dalam dua garis besar :
Pertahanan Laut di Indonesia Timur dengan Biak menjadi pusat armada-nya
(ini sesuai dengan garis geopolitik Douglas MacArthur) dan Pertahanan
Udara di Kalimantan. Sedangkan Bandung menjadi pusat Militer Angkatan
Darat.
Indonesia membeli berbagai macam peralatan militer, antara lain 41
Helikopter MI-4 (angkutan ringan), 9 Helikopter MI-6 (angkutan berat),
30 pesawat jet MiG-15, 49 pesawat buru sergap MiG-17, 10 pesawat buru
sergap MiG-19 ,20 pesawat pemburu supersonik MiG-21, 12 Kapal selam
kelas Whiskey, puluhan korvet dan 1 buah Kapal penjelajah kelas Sverdlov
(yang diberi nama sesuai dengan wilayah target operasi, yaitu KRI
Irian). Dari jenis pesawat pengebom, terdapat sejumlah 22 pesawat pembom
ringan Ilyushin Il-28, 14 pesawat pembom jarak jauh TU-16, dan 12
pesawat TU-16 versi maritim yang dilengkapi dengan persenjataan peluru
kendali anti kapal (rudal) air to surface jenis AS-1 Kennel. Sementara
dari jenis pesawat angkut terdapat 26 pesawat angkut ringan jenis IL-14
dan AQvia-14, 6 pesawat angkut berat jenis Antonov An-12B buatan Uni
Soviet dan 10 pesawat angkut berat jenis C-130 Hercules buatan Amerika
Serikat.
Berkat kedekatan Indonesia dengan Sovyet, maka Indonesia mendapatkan
bantuan besar-besaran kekuatan armada laut dan udara militer termaju di
dunia dengan nilai raksasa, US$ 2.5 milyar. Saat itu, kekuatan militer
Indonesia menjadi yang terkuat di seluruh belahan bumi selatan.
Kekuatan utama Indonesia di saat Trikora itu adalah salah satu kapal
perang terbesar dan tercepat di dunia buatan Sovyet dari kelas Sverdlov,
dengan 12 meriam raksasa kaliber 6 inchi. Ini adalah KRI Irian, dengan
bobot raksasa 16.640 ton dengan awak sebesar 1270 orang termasuk 60
perwira. Sovyet tidak pernah sekalipun memberikan kapal sekuat ini pada
bangsa lain manapun, kecuali Indonesia.
3. Rancangan Tata Ruang Negara
Bung Karno menyusun dasar-dasar kota administrasi provinsi dengan
dibantu eks Gubernur Jawa Timur RTA Milono, pada saat penyusunan
birokrasi itu Bung Karno sedang menyiapkan cetak biru besar tentang
rancangan tata ruang negara dari Sabang Sampai merauke. Antara Pulau
Sumatera-Jawa dan Bali akan dibangun terowongan bawah tanah, karena
rawan gempa Bung Karno meningkatkan armada pelabuhan antar pulau dipesan
kapalnya dari Polandia. Tapi rencana membuat channel seperti di selat
Inggris tetap diprioritaskan bahkan menjelang kejatuhannya di tahun 1966
ia bercerita tentang channel bawah tanah yang menghubungkan Pulau
Sumatera-Jawa dan Bali
Pusat pelabuhan dagang bukan diletakkan di Jawa, tapi di sepanjang
pesisir Sumatera Utara- Kalimantan-Sulawesi, Sukarno mempersiapkan
rangkaian pelabuhan yang ia sebut sebagai "Zona Tapal Kuda". Wilayah
Jawa dan Bali dijadikan pusat lumbung pangan. Kota-kota baru dibangun,
pilot project-nya adalah Palangkaraya dan Sampit, setelah itu Jakarta
juga dibangun untuk display ruang atau model kota modern. Jakarta tetap
dijadikan pusat kota jasa Internasional sementara Palangkaraya menjadi
pusat pemerintahan dan pertahanam militer udara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar