
Disadari ataupun tidak, GUSTI ALLAH senantiasa memberikan banyak gambaran pada manusia lewat ciptaanNYA. Tetapi kebanyakan manusia ‘tidak berpikir’ sehingga keberadaan alam ciptaanNYA ini kelihatan biasa-biasa saja.
GUSTI ALLAH menjelaskan lewat kitab suci Al Qur’an yang intinya: “Berjalan-jalanlah kamu dimuka bumi. Maka kamu akan melihat kekuasaanKU”. Artinya, kita harus cerdas dan cermat dalam mengamati keberadaan alam semesta itu. Dengan begitu, kita akan bisa merasa dekat dengan GUSTI ALLAH.
Sebenarnya, sangat mudah untuk menikmati keindahan alam. Orang bisa meluangkan waktu dengan bertamasya, wisata ke pegunungan, pantai dan lain-lain. Dalam hal menikmati alam, pandangan antara anak kecil dan orangtua (sudah berumur) akan berbeda. Coba sesekali perhatikan anak kecil yang tengah berjalan-jalan dan tiba-tiba mereka melihat sungai yang airnya mengalir deras. Pasti, tanpa pikir panjang ia akan kepingin untuk mandi di kali itu.
Tapi berbeda dengan orangtua dalam menikmati alam. Para orangtua itu cenderung tidak melihat keindahan dari sungai itu. Yang indah bagi orangtua ataupun orang yang sudah dewasa adalah duit. Kemanapun mata memandang, yang dipikirkan hanyalah duit dan dunia. Padahal yang dilihat indah itu adalah fana dan bakal berubah. Itulah perbedaan antara anak kecil dan orang tua/dewasa dalam memandang keindahan alam.
Banyak sekali yang bisa kita pelajari dari alam. Kita bisa belajar tentang ilmu kesabaran, ilmu kesetiaan, ilmu kepasrahan, ilmu diam dan banyak ilmu lainnya. Lho kok bisa? Jelas sekali. Lihatlah buktinya.
Belajar Kesabaran
Kalau hendak belajar ilmu kesabaran, maka kita hendaknya belajar pada Bumi yang kita injak setiap harinya ini. Bayangkan, bumi ini tidak pernah mengeluh meskipun diinjak-injak ratusan juta manusia. Bumi juga tidak pernah tersinggung meskipun diludahi, dikencingi bahkan menjadi tempat buangan kotoran manusia. Ia akan dengan sabar menerima semuanya. Kesabaran apalagi yang bisa mengalahkan bumi ciptaan GUSTI ALLAH itu? Tapi kalau manusia berbuat semena-mena terhadap bumi, maka Sang PENCIPTA akan marah dan bumi bakal menggulung dan menimbulkan malapetaka bagi manusia itu sendiri. Contohnya, tanah longsor dan lainnya.
Belajar Kesetiaan
Jika hendak belajar ilmu kesetiaan, tidak ada salahnya kita belajar pada matahari. Belajar dalam hal ini bukan berarti menyembah matahari. Tidak! Tetapi kita cukup melihat, merasakan dan mencontoh kesetiaan matahari yang juga ciptaan GUSTI ALLAH. Matahari adalah tempat belajar ilmu kesetiaan karena ia dengan setia senantiasa hadir dari Timur dan terbenam di Barat setiap hari.
Matahari tidak pernah ingkar janji untuk tidak terbit. Ada orang yang guyon dengan mengatakan, lha kalau mendung bagaimana? Meski mendung, matahari tetap bersinar meski tertutup mendung. Bukankah ia terus setia?
Belajar Kepasrahan dan Nerimo (Ikhlas)
Jika Anda ingin belajar ilmu kepasrahan dan nerimo (ikhlas), maka tidak ada salahnya belajar pada laut. Laut yang diciptakan GUSTI ALLAH adalah tempat mengalirnya beribu-ribu sungai di dunia ini. Kotoran apapun yang dilemparkan manusia lewat sungai, pasti akan mengalir ke laut. Dan laut akan pasrah menerima barang-barang buangan itu. Ia tidak pernah mengeluh sedikitpun.
Laut juga akan ikhlas menerima semua air, kotoran atau benda-benda apapun yang mengalir lewat sungai. Keikhlasan yang ditunjukkan oleh laut adalah keikhlasan “Lillahi Ta’ala” (semuanya karena ALLAH).
Belajar Ilmu dari Tumbuhan
Kita juga harus belajar dari tumbuhan. Apa alasannya? Alasannya jelas, karena tumbuhan sejak dari bibit ia hidup, ia cenderung diam. Tapi tahu-tahu lama kelamaan tumbuhan itu menjadi besar dan memberi manfaat bagi si penanamnya. Bayangkan, sebuah tumbuhan saja tahu cara menghargai dan berterimakasih pada orang yang merawatnya. Sedangkan kita manusia ini yang disebut makhluk mulia oleh GUSTI ALLAH, malah tidak bisa menghargai dan berterimakasih pada GUSTI ALLAH yang telah merawat kita. Apa layak kita disebut sebagai manusia Rahmatan Lil-alamin (manusia yang menjadi rahmat bagi alam semesta)?
Kalau kita menghormati alam, berarti kita juga mensyukuri apa yang telah dianugerahkan GUSTI ALLAH. Bukan malah kita memperTUHAN alam.
Jumat, 29 Agustus 2008
Memahami Nyawa Shalat

Setiap yang hidup pasti mempunyai nyawa. Sesuatu tidak bisa dikatakan hidup jika tidak memiliki nyawa. Dalam Islam Kejawen juga diajarkan tentang nyawa, khususnya tentang doa. Pada sebuah doa, atau ketika melakukan shalat secara syariat, maka kita harus mengetahui nyawa sebuah shalat. Kalau kita tidak mengetahui nyawa sebuah shalat, maka tidak akan bisa mengetahui "ruh" dari shalat itu. Intinya, jika kita tidak mengetahui nyawa dan "ruh" shalat yang kita lakukan, maka shalat kita hanya sekedar gugur kewajiban semata.
"Tangeh lamun sira bisa ketemu GUSTI ALLAH, yen sira ora bisa mangerteni hakekate shalat," begitu pesan dari sesepuh kita dulu. Shalat itu menurut Islam Kejawen adalah senantiasa eling dan menyembah pada GUSTI ALLAH. Seperti sudah dijelaskan pada tulisan terdahulu bahwa ada 2 hakekat hidup di dunia yaitu
- Tansah eling lan manembah marang GUSTI ALLAH (shalat)
- Apik marang sak pada-padaning ngaurip (berbuat baik pada sesama makhluk)
Salah satu cara eling lan manembah marang GUSTI ALLAH itu jika dilakukan menurut syariat adalah dengan jalan melakukan shalat.
Banyak dari kita yang tidak tahu, dimanakah nyawa dalam sebuah shalat yang kita lakukan. Rata-rata orang yang beragama Islam hanya menjalankan shalat sebagai syarat saja. Artinya, sekedar gugur kewajiban. Padahal, jika mengetahui nyawa shalat itu sendiri, kita akan bisa berdialog dengan GUSTI ALLAH. Dimanakah nyawa syariat shalat yang dilakukan itu?
Jawabannya: nyawa shalat itu ada pada surat Al-Fatihah. Lho kok bisa? Ya sangat jelas sekali. Karena sebuah shalat yang kita lakukan tidak akan sah jika tidak membaca surat Al-Fatihah. Jadi, jika seseorang hanya mampu membaca surat Al-Fatihah saja, maka shalatnya sudah sah, tapi masih belum bisa berdialog dengan GUSTI ALLAH. Jadi, ketika shalat dan membaca surat Al-Fatihah, konsentrasi kita haruslah penuh untuk bisa berdialog dengan GUSTI ALLAH. Lain halnya dengan shalat dimana seseorang membaca surat Al-Fatihah dengan cepat, tentu saja tidak akan mampu untuk berdialog dengan GUSTI ALLAH.
Apa sih ayat-ayat dalam surat Al-Fatihah itu? Tentu banyak dari kita yang sudah mengetahuinya. Surat Al-Fatihah tersebut antara lain berbunyi
Bismillahirrahmaanirrahiim
Alhamdulillaahi Rabbil ‘aalamiin
Ar Rahmaani rrahiim
Maaliki yaumid diin
Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin
Ihdinas shiraatal mustaqiim
Siraathal ladzii na’an ‘amta ‘alaihim,
ghairil maghduu bi’alaihim, walad dhaalliin
Terjemahannya
Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang
Segala puji bagi Allah, Tuhan alam semesta
Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang
Yang menguasai hari pembalasan/kiamat
Hanya padamu kami menyembah, dan hanya padamu kami memohon pertolongan
Tunjukkanlah kami Jalan yang Lurus
Jalan yang penuh nikmat, bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai dan bukan jalan yang sesat.
Perhatikan dengan seksama, betapa hebat dan berbobotnya surat Al-Fatihah itu. Surat Al-Fatihah tersebut jika dibaca dengan konsentrasi pada GUSTI ALLAH akan sangat bermanfaat bagi yang membacanya, terserah apapun tujuannya. Tidak salah jika surat Al-Fatihah tersebut menjadi Ummul Kitab (surat pembuka Al'Quran).
Nyawa Surat Al-Fatihah
Seperti sudah disebutkan diatas bahwa tidak banyak orang yang tahu bahwa Al-Fatihah sebagai nyawa sebuah shalat, demikian juga tidak banyak orang yang tahu bahwa surat Al-Fatihah itu sendiri juga mempunyai nyawa di dalamnya. Jadi, bisa dikatakan nyawa sebuah shalat adalah Al-Fatihah, dan surat Al-Fatihah itu sendiri juga mempunyai nyawa ataupun "ruh".
Apa nyawa dari surat Al-Fatihah? Nyawa ataupun "ruh" dari surat Al-Fatihah itu adalah pada ayat yang berbunyi "Iyyaaka na’budu, wa iyyaaka nasta’iin". Mengapa ayat tersebut menjadi nyawa dari surat Al-Fatihah? Karena ayat tersebut merupakan perpisahan antara doa yang dipanjatkan pada GUSTI ALLAH dan doa untuk diri manusia itu sendiri yang menunjukkan kepasrahan kita sebagai makhluk.
Coba perhatikan surat Al-Fatihah beserta terjemahannya sekali lagi.
Bismillahirrahmaanirrahiim
(Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih & Penyayang) (Doa untuk ALLAH)
Alhamdulillaahi Rabbil ‘aalamiin
(Segala puji bagi Allah, Tuhan alam semesta) (Doa untuk ALLAH)
Ar Rahmaani rrahiim
(Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang) (Doa Untuk ALLah)
Maaliki yaumid diin
(Yang Menguasai hari pembalasan/kiamat) (Doa untuk ALLAH)
Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin
(Hanya padaMU Kami Menyembah,dan hanya padaMU kami memohon pertolongan)(Doa Kepasrahan kita)
Ihdinas shiraatal mustaqiim
(Tunjukkanlah kami jalan yang lurus)(Doa untuk si manusia)
Siraathal ladzii na’an ‘amta ‘alaihim,
(Jalan yang penuh nikmat)(Doa untuk si manusia)
ghairil maghduu bi’alaihim, walad dhaalliin
(Bukan jalan orang yang Engkau Murkai dan bukan jalan yang sesat)(Doa untuk si manusia)
Nah, perhatikan doa tersebut. Dimanakah perpisahan antara doa untuk Allah dan doa untuk kepentingan si manusia itu sendiri? Perpisahan tersebut adalah pada "Iyyaaka na’budu, wa iyyaaka nasta’iin" yang menunjukkan bahwa manusia itu tidak mempunyai kekuatan apapun dan pasrah pada kuasa dari GUSTI ALLAH. Jadi, berkonsentrasilah ketika membaca perpisahan antara doa untuk ALLAH dan doa untuk kepentingan si manusia karena hal itu menunjukkan kepasrahan kita pada GUSTI KANG MURBEHING DUMADI.
Rabu, 13 Agustus 2008
Mencari SANG MAHA GHAIB
- "GUSTI ALLAH, Panjenengan panggenanipun dhateng pundi?
+ "AKU ono ning teleging ati"
- "GUSTI ALLAH. Kulo sampun nyusul Panjenengan dumugi dhateng teleging ati. Panjenengan
kok mboten wonten. Panjenengan dhateng pundi?
+ "Kowe ora bakal biso nggoleki AKU. AKU ono ning teleging urip. Kowe bisa ketemu kelawan
AKU yen wis titi mongsone"
Terjemahan:
- "GUSTI ALLAH, dimanakah ENGKAU?
+ "AKU ada di dasar hati (hati sanubari)"
- "GUSTI ALLAH. Saya sudah menyusul ENGKAU di dasar hati. ENGKAU kok tidak ada. Dimanakah
ENGKAU?
+ "Kamu tidak bakal bisa mencari AKU. AKU ada di dasar hidup. Kamu bisa ketemu AKU jika
sudah saatnya"
Gambaran dialog di atas menggambarkan betapa sulit dan berlikunya untuk bisa bertemu dengan Sang Hyang Urip atau GUSTI ALLAH. Kita tidak akan bisa bertemu, apalagi bersatu dengan GUSTI ALLAH jika belum saatnya. Namun, dari dialog itu kita bisa tahu bahwa ALLAH itu dekat. Seperti yang dijelaskan GUSTI ALLAH sendiri dalam Al'Quran "AKU tidak jauh dari urat lehermu sendiri."
Namun orang Jawa memiliki falsafah tersendiri agar tidak putus asa untuk bisa bertemu Sang Khalik. Falsafah tersebut berbunyi,"Sopo sing temen bakal tinemu." Yang artinya, "Siapa yang benar-benar mencari, bakal menemukannya". Falsafah tersebut sangat besar artinya bagi para pendaki spiritual. Setidaknya, kita pasti bisa bertemu dengan GUSTI ALLAH di alam kematian saat kita hidup di dunia ini.
Lho hidup di dunia ini kok disebut alam kematian? Karena orang hidup di dunia itu hakekatnya adalah mati, dan orang yang sudah mati itu hakekatnya hidup. Alasannya, kita hidup di dunia ini selalu diperalat oleh kulit, daging, perut, otak dan lain-lainnya. Oleh karena itu, saat kita hidup di dunia ini pasti membutuhkan makanan untuk kita makan. Sarana untuk bisa mendapatkan makanan adalah dengan bekerja mencari duit.
Nah, kita makan itu sebetulnya hanyalah untuk menunda kematian. Lantaran diperalat oleh indera, kulit, daging, perut, otak dan lainnya, maka kita ini disebut mati. Tetapi ketika seseorang itu mati, badan yang bersifat jasad ini ditinggalkan. Yang hidup hanyalah ruh. Ruh tidak pernah butuh makan, tidur, apalagi butuh duit. Ruh itu hanya butuh bertemu dengan si Pemilik Ruh.
Di bagian lain pada blog ini pernah dijelaskan perihal "belajarlah mati sebelum kematian itu datang". Artinya, ketika kita hidup di dunia ini hendaklah kita belajar mematikan hawa nafsu dan membersihkan segala hal yang bersifat mengotori hati. Tujuannya semata-mata hanya untuk bertemu dengan GUSTI ALLAH.
Mengapa kita mesti belajar mati? Belajar mati sangatlah penting. Agar nanti ketika kita mati tidak salah arah dan salah langkah. Lho...bukankah orang mati itu ibarat tidur menunggu pengadilan dari Hyang Maha Agung? Oh...tidak. Orang mati itu justru memulai kembali perjalanan menuju ke Hyang Maha Kuasa. Orang Jawa mengatakan dalam kata-kata bijaksananya,"Urip iku ibarat wong mampir ngombe (Hidup itu seperti orang yang mampir minum)". Kalau diibaratkan secara detil, orang hidup di dunia ini sebenarnya mirip seorang musafir yang berjalan, lalu kelelahan, istirahat dan minum di bawah pohon. Ketika rasa letih dan lelah itu sudah sirna, si musafir itupun harus kembali melanjutkan perjalanannya. Kemana? Tentu saja ke tempat tujuannya.
GUSTI ALLAH itu dekat, jika sang musafir senantiasa mengingat-ingat tentang GUSTI ALLAH. Tetapi sebaliknya, GUSTI ALLAH itu jauh ketika sang musafir tersebut lebih banyak berpikir tentang hal-hal lain yang bersifat duniawi selain GUSTI ALLAH.
Pertanyaannya, Bagaimana untuk bisa bertemu dengan ALLAH? Ibarat kita hendak bertemu sang kekasih hati, gambaran wajah sang kekasih hati sudah terlukis dalam benak kita meski lama tak bertemu dan di lokasi yang jauh. "Jauh di mata, dekat di hati". Oleh karena itu, pertama, GUSTI ALLAH harus selalu terlukis dalam benak kita. Artinya, kita harus senantiasa eling.
Kedua, GUSTI ALLAH itu bersifat Ghaib. "Mustahil bagi kita yang nyata ini bertemu dengan yang Ghaib," begitu kata orang rasional. Tapi pendapat itu tidak berlaku bagi para pendaki spiritual. Seseorang bisa bertemu dengan Sang GHAIB dengan menggunakan satu piranti khusus. Apakah itu? Piranti itu adalah mata batin. Sebab GUSTI ALLAH tidak bisa dipandang dengan mata telanjang.
Dari kedua cara tersebut, maka kita bisa mengambil kesimpulan bahwa kedua cara tersebut lebih mengandalkan pada piranti yang lebih halus lagi untuk bisa bertemu dengan GUSTI ALLAH yaitu dengan RASA. Jika RASA itu sudah terbiasa diasah, maka akan menjadi tajam seperti mata pedang. Cobalah untuk berlatih mengasah RASA dengan cara belajar mati.
+ "AKU ono ning teleging ati"
- "GUSTI ALLAH. Kulo sampun nyusul Panjenengan dumugi dhateng teleging ati. Panjenengan
kok mboten wonten. Panjenengan dhateng pundi?
+ "Kowe ora bakal biso nggoleki AKU. AKU ono ning teleging urip. Kowe bisa ketemu kelawan
AKU yen wis titi mongsone"
Terjemahan:
- "GUSTI ALLAH, dimanakah ENGKAU?
+ "AKU ada di dasar hati (hati sanubari)"
- "GUSTI ALLAH. Saya sudah menyusul ENGKAU di dasar hati. ENGKAU kok tidak ada. Dimanakah
ENGKAU?
+ "Kamu tidak bakal bisa mencari AKU. AKU ada di dasar hidup. Kamu bisa ketemu AKU jika
sudah saatnya"
Gambaran dialog di atas menggambarkan betapa sulit dan berlikunya untuk bisa bertemu dengan Sang Hyang Urip atau GUSTI ALLAH. Kita tidak akan bisa bertemu, apalagi bersatu dengan GUSTI ALLAH jika belum saatnya. Namun, dari dialog itu kita bisa tahu bahwa ALLAH itu dekat. Seperti yang dijelaskan GUSTI ALLAH sendiri dalam Al'Quran "AKU tidak jauh dari urat lehermu sendiri."
Namun orang Jawa memiliki falsafah tersendiri agar tidak putus asa untuk bisa bertemu Sang Khalik. Falsafah tersebut berbunyi,"Sopo sing temen bakal tinemu." Yang artinya, "Siapa yang benar-benar mencari, bakal menemukannya". Falsafah tersebut sangat besar artinya bagi para pendaki spiritual. Setidaknya, kita pasti bisa bertemu dengan GUSTI ALLAH di alam kematian saat kita hidup di dunia ini.
Lho hidup di dunia ini kok disebut alam kematian? Karena orang hidup di dunia itu hakekatnya adalah mati, dan orang yang sudah mati itu hakekatnya hidup. Alasannya, kita hidup di dunia ini selalu diperalat oleh kulit, daging, perut, otak dan lain-lainnya. Oleh karena itu, saat kita hidup di dunia ini pasti membutuhkan makanan untuk kita makan. Sarana untuk bisa mendapatkan makanan adalah dengan bekerja mencari duit.
Nah, kita makan itu sebetulnya hanyalah untuk menunda kematian. Lantaran diperalat oleh indera, kulit, daging, perut, otak dan lainnya, maka kita ini disebut mati. Tetapi ketika seseorang itu mati, badan yang bersifat jasad ini ditinggalkan. Yang hidup hanyalah ruh. Ruh tidak pernah butuh makan, tidur, apalagi butuh duit. Ruh itu hanya butuh bertemu dengan si Pemilik Ruh.
Di bagian lain pada blog ini pernah dijelaskan perihal "belajarlah mati sebelum kematian itu datang". Artinya, ketika kita hidup di dunia ini hendaklah kita belajar mematikan hawa nafsu dan membersihkan segala hal yang bersifat mengotori hati. Tujuannya semata-mata hanya untuk bertemu dengan GUSTI ALLAH.
Mengapa kita mesti belajar mati? Belajar mati sangatlah penting. Agar nanti ketika kita mati tidak salah arah dan salah langkah. Lho...bukankah orang mati itu ibarat tidur menunggu pengadilan dari Hyang Maha Agung? Oh...tidak. Orang mati itu justru memulai kembali perjalanan menuju ke Hyang Maha Kuasa. Orang Jawa mengatakan dalam kata-kata bijaksananya,"Urip iku ibarat wong mampir ngombe (Hidup itu seperti orang yang mampir minum)". Kalau diibaratkan secara detil, orang hidup di dunia ini sebenarnya mirip seorang musafir yang berjalan, lalu kelelahan, istirahat dan minum di bawah pohon. Ketika rasa letih dan lelah itu sudah sirna, si musafir itupun harus kembali melanjutkan perjalanannya. Kemana? Tentu saja ke tempat tujuannya.
GUSTI ALLAH itu dekat, jika sang musafir senantiasa mengingat-ingat tentang GUSTI ALLAH. Tetapi sebaliknya, GUSTI ALLAH itu jauh ketika sang musafir tersebut lebih banyak berpikir tentang hal-hal lain yang bersifat duniawi selain GUSTI ALLAH.
Pertanyaannya, Bagaimana untuk bisa bertemu dengan ALLAH? Ibarat kita hendak bertemu sang kekasih hati, gambaran wajah sang kekasih hati sudah terlukis dalam benak kita meski lama tak bertemu dan di lokasi yang jauh. "Jauh di mata, dekat di hati". Oleh karena itu, pertama, GUSTI ALLAH harus selalu terlukis dalam benak kita. Artinya, kita harus senantiasa eling.
Kedua, GUSTI ALLAH itu bersifat Ghaib. "Mustahil bagi kita yang nyata ini bertemu dengan yang Ghaib," begitu kata orang rasional. Tapi pendapat itu tidak berlaku bagi para pendaki spiritual. Seseorang bisa bertemu dengan Sang GHAIB dengan menggunakan satu piranti khusus. Apakah itu? Piranti itu adalah mata batin. Sebab GUSTI ALLAH tidak bisa dipandang dengan mata telanjang.
Dari kedua cara tersebut, maka kita bisa mengambil kesimpulan bahwa kedua cara tersebut lebih mengandalkan pada piranti yang lebih halus lagi untuk bisa bertemu dengan GUSTI ALLAH yaitu dengan RASA. Jika RASA itu sudah terbiasa diasah, maka akan menjadi tajam seperti mata pedang. Cobalah untuk berlatih mengasah RASA dengan cara belajar mati.
Minggu, 03 Agustus 2008
Sampurnaning Urip, Sampurnaning Pati
Sajatine ora ana apa-apa, awit duk maksih awang-uwung durung ana
sawiji-wiji, kang ana dhihin iku Ingsun, ora ana Pangeran anging Ingsun
sajatining kang urip luwih suci, anartani warna, aran, lan
pakartining-Sun (dzat, sipat, asma, afngal).
Bahasa Jawa di atas memiliki arti sebagai berikut: Sesungguhnya tidak ada apa-apa, sejak masih awang-uwung (suwung, alam hampa) belum ada suatu apapun, yang ada pertama kali adalah Ingsun, tidak ada Tuhan kecuali Aku (Ingsun) sejatinya hidup yang lebih suci, mewakili pancaran dzat, sifat, asma dan afngal-Ku (Ingsun).
Kalau menilik dari kata-kata tersebut, maka kita akan bisa mawas diri tentang keberadaan kita sebagai manusia. Kita ini siapa, darimana dan nantinya bakal ke mana. Ketika terlahir ke alam dunia, manusia masih berbentuk bayi dan tidak membawa satu lembar kain pun. Saat menjadi bayi itu, kita yang semula tidak perlu disuapi ketika masih berada di dalam perut ibu, sudah mulai diperkenalkan dengan kejamnya dunia. Dimana kita harus menangis meronta-ronta untuk bisa mendapatkan makanan dengan cara disuapi ibu.
Namun ketika kita menginjak pada masa kanak-kanak, tidak ada hal-hal terindah yang menghiasi kehidupan ini selain bermain dan bermain bersama teman-teman sebaya. Bahkan ketika melihat sungai, kali ataupun empang yang ada di sekitar rumah kita, maka kita yang masih kanak-kanak ketika itu melihat keindahan yang luar biasa. Kita melihat anugerah GUSTI ALLAH yang Maha Besar lewat alam semesta yang diciptakan. Maka, jangan heran ketika kita melihat gunung, pantai dan lainnya, pandangan kanak-kanak kita akan mengagumi keindahan alam Sang Pencipta itu.
Waktu pun beranjak dan terus berlalu. Akhirnya masa kanak-kanak kita berganti dengan masa remaja. Di masa remaja inilah kita sudah mulai menerima unsur-unsur positif dan negatif dari lingkungan. Tragisnya, di masa ini kita masih belum bisa memilah-milah mana yang benar dan mana yang salah. Semuanya ditelan mentah-mentah. Di masa inilah pembentukkan jiwa terjadi. Kalau yang dominan unsur negatif, maka seseorang di masa depannya akan diwarnai dengan perilaku yang negatif. Tetapi kalau unsur positif yang banyak masuk, maka kehidupan orang tersebut di masa depan akan menjadi lebih terang dan terarah.
Ketika kita mulai menginjak masa dewasa dan sudah memutuskan untuk menikah, maka keindahan alam semesta ciptaan GUSTI ALLAH yang ketika masa kanak-kanak kita saksikan, akhirnya musnah. Yang ada adalah berganti dengan pandangan duit, duit dan duit. Kita disibukkan untuk mencari harta dunia. Semua yang kita lakukan semata-mata adalah untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Harta dunia itulah yang mulai menghalang-halangi pandangan kita terhadap keberadaan GUSTI ALLAH.
Buktinya, walaupun kita shalat, meditasi, tafakur ataupun semedi, kadangkala yang tampak di depan kita hanyalah persoalan-persoalan yang berkutat pada duit. Pertanyaan besar yang muncul, DULU KITA INI SIAPA, PUNYA APA DAN SEKARANG KITA PUNYA APA?
Jawabannya mudah, dulu kita ini bayi, kanak-kanak, remaja tidak punya apa-apa. Tetapi ketika dewasa dan berumahtangga, kita "DITITIPI" oleh GUSTI ALLAH dengan anak, istri dan harta benda. Tragisnya, kita malah bangga dengan harta benda yang kita peroleh. "Kekayaan ini adalah hasil kerja kerasku selama ini," ujar kita meski dalam hati.
Tidak, sekali-kali tidak. Harta benda, anak, istri dan apapun yang kita miliki di dunia ini bukanlah milik kita. Itu sekedar "TITIPAN" Sang Kuasa. Kalau Anda merasa memiliki semuanya, mampukah Anda menghalang-halangi bahaya kebakaran yang akan melumat habis harta benda Anda? Mampukah kita menghalang-halangi nyawa anak kita yang akan dipanggil oleh GUSTI ALLAH? Bahkan kita sendiri tidak mampu menolak ketika nyawa kita hendak dicabut dari jasmani ini oleh Tuhan.
SEMUA MILIK GUSTI ALLAH
Pada bait di atas disebutkan kata-kata dzat, sipat, asma, afngal.
ZAT: Semua di dunia ini yang memiliki zat, itu milik GUSTI ALLAH. Coba Anda cari adakah di dunia ini yang sifatnya bukan zat?
SIFAT: Semua makhluk ataupun benda yang memiliki sifat-sifat adalah milik GUSTI ALLAH.
ASMA: Asma adalah berarti nama. Semua benda yang ada di dunia ini yang memiliki nama, adalah milik GUSTI ALLAH. Coba Anda cari makhluk ataupun benda di dunia ini yang tidak memiliki nama. Selama memiliki nama, itu kepunyaan GUSTI ALLAH.
AFNGAL: Rasa. Semua makhluk ataupun benda di dunia ini yang memiliki rasa, maka adalah milik GUSTI ALLAH.
Kembali ke pertanyaan dasar: Lalu kita ini punya apa? Jelas, tidak punya apa-apa. Ketika mati pun kita tidak akan membawa sepeser pun uang. Masihkah kita merasa sebagai makhluk yang adigang-adigung-adiguno? Jelas tidak. Kita harus pandai-pandai mepes hawa nafsu agar kita bisa kembali sebagai satria sejati. Satria sejati adalah manusia yang bisa menemukan sampurnaning urip lan sampurnaning pati (sempurnanya hidup, dan sempurnanya mati).
Bahasa Jawa di atas memiliki arti sebagai berikut: Sesungguhnya tidak ada apa-apa, sejak masih awang-uwung (suwung, alam hampa) belum ada suatu apapun, yang ada pertama kali adalah Ingsun, tidak ada Tuhan kecuali Aku (Ingsun) sejatinya hidup yang lebih suci, mewakili pancaran dzat, sifat, asma dan afngal-Ku (Ingsun).
Kalau menilik dari kata-kata tersebut, maka kita akan bisa mawas diri tentang keberadaan kita sebagai manusia. Kita ini siapa, darimana dan nantinya bakal ke mana. Ketika terlahir ke alam dunia, manusia masih berbentuk bayi dan tidak membawa satu lembar kain pun. Saat menjadi bayi itu, kita yang semula tidak perlu disuapi ketika masih berada di dalam perut ibu, sudah mulai diperkenalkan dengan kejamnya dunia. Dimana kita harus menangis meronta-ronta untuk bisa mendapatkan makanan dengan cara disuapi ibu.
Namun ketika kita menginjak pada masa kanak-kanak, tidak ada hal-hal terindah yang menghiasi kehidupan ini selain bermain dan bermain bersama teman-teman sebaya. Bahkan ketika melihat sungai, kali ataupun empang yang ada di sekitar rumah kita, maka kita yang masih kanak-kanak ketika itu melihat keindahan yang luar biasa. Kita melihat anugerah GUSTI ALLAH yang Maha Besar lewat alam semesta yang diciptakan. Maka, jangan heran ketika kita melihat gunung, pantai dan lainnya, pandangan kanak-kanak kita akan mengagumi keindahan alam Sang Pencipta itu.
Waktu pun beranjak dan terus berlalu. Akhirnya masa kanak-kanak kita berganti dengan masa remaja. Di masa remaja inilah kita sudah mulai menerima unsur-unsur positif dan negatif dari lingkungan. Tragisnya, di masa ini kita masih belum bisa memilah-milah mana yang benar dan mana yang salah. Semuanya ditelan mentah-mentah. Di masa inilah pembentukkan jiwa terjadi. Kalau yang dominan unsur negatif, maka seseorang di masa depannya akan diwarnai dengan perilaku yang negatif. Tetapi kalau unsur positif yang banyak masuk, maka kehidupan orang tersebut di masa depan akan menjadi lebih terang dan terarah.
Ketika kita mulai menginjak masa dewasa dan sudah memutuskan untuk menikah, maka keindahan alam semesta ciptaan GUSTI ALLAH yang ketika masa kanak-kanak kita saksikan, akhirnya musnah. Yang ada adalah berganti dengan pandangan duit, duit dan duit. Kita disibukkan untuk mencari harta dunia. Semua yang kita lakukan semata-mata adalah untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Harta dunia itulah yang mulai menghalang-halangi pandangan kita terhadap keberadaan GUSTI ALLAH.
Buktinya, walaupun kita shalat, meditasi, tafakur ataupun semedi, kadangkala yang tampak di depan kita hanyalah persoalan-persoalan yang berkutat pada duit. Pertanyaan besar yang muncul, DULU KITA INI SIAPA, PUNYA APA DAN SEKARANG KITA PUNYA APA?
Jawabannya mudah, dulu kita ini bayi, kanak-kanak, remaja tidak punya apa-apa. Tetapi ketika dewasa dan berumahtangga, kita "DITITIPI" oleh GUSTI ALLAH dengan anak, istri dan harta benda. Tragisnya, kita malah bangga dengan harta benda yang kita peroleh. "Kekayaan ini adalah hasil kerja kerasku selama ini," ujar kita meski dalam hati.
Tidak, sekali-kali tidak. Harta benda, anak, istri dan apapun yang kita miliki di dunia ini bukanlah milik kita. Itu sekedar "TITIPAN" Sang Kuasa. Kalau Anda merasa memiliki semuanya, mampukah Anda menghalang-halangi bahaya kebakaran yang akan melumat habis harta benda Anda? Mampukah kita menghalang-halangi nyawa anak kita yang akan dipanggil oleh GUSTI ALLAH? Bahkan kita sendiri tidak mampu menolak ketika nyawa kita hendak dicabut dari jasmani ini oleh Tuhan.
SEMUA MILIK GUSTI ALLAH
Pada bait di atas disebutkan kata-kata dzat, sipat, asma, afngal.
ZAT: Semua di dunia ini yang memiliki zat, itu milik GUSTI ALLAH. Coba Anda cari adakah di dunia ini yang sifatnya bukan zat?
SIFAT: Semua makhluk ataupun benda yang memiliki sifat-sifat adalah milik GUSTI ALLAH.
ASMA: Asma adalah berarti nama. Semua benda yang ada di dunia ini yang memiliki nama, adalah milik GUSTI ALLAH. Coba Anda cari makhluk ataupun benda di dunia ini yang tidak memiliki nama. Selama memiliki nama, itu kepunyaan GUSTI ALLAH.
AFNGAL: Rasa. Semua makhluk ataupun benda di dunia ini yang memiliki rasa, maka adalah milik GUSTI ALLAH.
Kembali ke pertanyaan dasar: Lalu kita ini punya apa? Jelas, tidak punya apa-apa. Ketika mati pun kita tidak akan membawa sepeser pun uang. Masihkah kita merasa sebagai makhluk yang adigang-adigung-adiguno? Jelas tidak. Kita harus pandai-pandai mepes hawa nafsu agar kita bisa kembali sebagai satria sejati. Satria sejati adalah manusia yang bisa menemukan sampurnaning urip lan sampurnaning pati (sempurnanya hidup, dan sempurnanya mati).
Jumat, 27 Juni 2008
3 Titipan GUSTI ALLAH
Dalam hidup ini, setiap manusia selalu mendapatkan pengayoman dari GUSTI
ALLAH. Pengayoman tersebut tidak pernah putus walau sedetik pun.
Berbagai kenikmatan di dunia ini senantiasa kita terima secara gratis.
Contohnya, napas kita. GUSTI ALLAH senantiasa memberikan udara pada kita
untuk bernapas dan tidak membayar sepeser pun alias gratis. Namun
kadangkala manusia selalu menganggap kenikmatan itu sebagai hal-hal yang
berbau materi.
Umumnya manusia merasa baru mendapatkan kenikmatan setelah menerima duit dari orang lain. Mereka mengatakan itu merupakan rejeki. Rejeki dan kenikmatan itu semata-mata bukanlah materi. Apa yang kita terima dari GUSTI ALLAH berupa kesegaran, kesehatan dan lainnya, itupun merupakan rejeki dan kenikmatan dari ALLAH. Itu merupakan tanda bahwa GUSTI ALLAH senantiasa mengayomi setiap diri umatnya. Tidak peduli apakah umatnya itu memiliki cacat fisik maupun rohani, semuanya selalu mendapatkan pengayoman dari GUSTI.
GUSTI ALLAH itu juga Maha Adil. DIA menjaga setiap sendi-sendi kehidupan umatnya. Namun berbeda dengan manusia, rata-rata makhluk yang disebut manusia ini dalam praktek kehidupan sehari-hari ternyata tidak adil. Ada tiga hal yang patut dijaga oleh manusia agar seorang manusia itu dikatakan adil dan menjadi "Manungso sejati". Apa saja itu?
Tiga hal tersebut adalah:
1. Raga
2. Pikiran
3. Jiwa
Ketiga hal tersebut ada dalam setiap tubuh manusia. Raga dalam bahasa Jawa disebut "Wadag". Pikiran dalam bahasa Jawa disebut "nalar". Sedangkan Jiwa disebut orang Jawa dengan "suksma". Ketiga hal tersebut antara satu dengan lainnya memiliki makanan sendiri-sendiri.
Makanan untuk ketiga hal tersebut:
1. Raga (makanannya adalah nasi, roti dsb)
2. Pikiran (makanannya adalah membaca koran, melihat TV, mendengarkan radio dan tukar pikiran dengan orang lain agar tumbuh pemahaman)
3. Jiwa (makanan dari jiwa adalah "panembah", "Memuji GUSTI ALLAH", Sembahyang, Sholat dan lainnya, agar muncul rasa tentram dalam hidup ini).
Nah, rata-rata manusia dikatakan tidak bisa adil karena untuk menjaga makanan dari ketiga hal tersebut saja merasa kesulitan. Padahal, GUSTI ALLAH sudah menitipkan tiga hal tersebut pada setiap diri dan titipan itu harus dirawat dengan baik oleh manusia. Kenyataannya malah berkata lain. Manusia umumnya menelantarkan satu dari ketiga hal tersebut.
Setiap titipan GUSTI ALLAH pada manusia jika kita sebagai manusia menelantarkannya, maka akan terjadi ketidakseimbangan dalam hidup ini. Contohnya, jika kita lebih mementingkan raga saja dengan makan semua makanan yang ada tanpa diimbangi dengan kebutuhan Jiwa dan pikiran, maka yang muncul adalah penyakit akibat makanan itu.
Demikian juga ketika kita lebih mementingkan pikiran dimana kita selalu mencari pemahaman dengan membaca koran dan ilmu pengetahuan lainnya tanpa mempedulikan raga dan jiwa, maka kita juga akan sakit. Umumnya sakit maag, lever dan lainnya.
Oleh karena itu, ketiga hal tersebut harus dijaga keseimbangannya karena ketiganya merupakan titipan yang sangat berharga dari GUSTI ALLAH. Kalau ketiga hal tersebut sudah bisa dijaga dengan seadil-adilnya, maka kita bisa disebut manusia yang senantiasa menjaga amanah dari GUSTI ALLAH dan digelari sebagai "Manungso Sejati".
Umumnya manusia merasa baru mendapatkan kenikmatan setelah menerima duit dari orang lain. Mereka mengatakan itu merupakan rejeki. Rejeki dan kenikmatan itu semata-mata bukanlah materi. Apa yang kita terima dari GUSTI ALLAH berupa kesegaran, kesehatan dan lainnya, itupun merupakan rejeki dan kenikmatan dari ALLAH. Itu merupakan tanda bahwa GUSTI ALLAH senantiasa mengayomi setiap diri umatnya. Tidak peduli apakah umatnya itu memiliki cacat fisik maupun rohani, semuanya selalu mendapatkan pengayoman dari GUSTI.
GUSTI ALLAH itu juga Maha Adil. DIA menjaga setiap sendi-sendi kehidupan umatnya. Namun berbeda dengan manusia, rata-rata makhluk yang disebut manusia ini dalam praktek kehidupan sehari-hari ternyata tidak adil. Ada tiga hal yang patut dijaga oleh manusia agar seorang manusia itu dikatakan adil dan menjadi "Manungso sejati". Apa saja itu?
Tiga hal tersebut adalah:
1. Raga
2. Pikiran
3. Jiwa
Ketiga hal tersebut ada dalam setiap tubuh manusia. Raga dalam bahasa Jawa disebut "Wadag". Pikiran dalam bahasa Jawa disebut "nalar". Sedangkan Jiwa disebut orang Jawa dengan "suksma". Ketiga hal tersebut antara satu dengan lainnya memiliki makanan sendiri-sendiri.
Makanan untuk ketiga hal tersebut:
1. Raga (makanannya adalah nasi, roti dsb)
2. Pikiran (makanannya adalah membaca koran, melihat TV, mendengarkan radio dan tukar pikiran dengan orang lain agar tumbuh pemahaman)
3. Jiwa (makanan dari jiwa adalah "panembah", "Memuji GUSTI ALLAH", Sembahyang, Sholat dan lainnya, agar muncul rasa tentram dalam hidup ini).
Nah, rata-rata manusia dikatakan tidak bisa adil karena untuk menjaga makanan dari ketiga hal tersebut saja merasa kesulitan. Padahal, GUSTI ALLAH sudah menitipkan tiga hal tersebut pada setiap diri dan titipan itu harus dirawat dengan baik oleh manusia. Kenyataannya malah berkata lain. Manusia umumnya menelantarkan satu dari ketiga hal tersebut.
Setiap titipan GUSTI ALLAH pada manusia jika kita sebagai manusia menelantarkannya, maka akan terjadi ketidakseimbangan dalam hidup ini. Contohnya, jika kita lebih mementingkan raga saja dengan makan semua makanan yang ada tanpa diimbangi dengan kebutuhan Jiwa dan pikiran, maka yang muncul adalah penyakit akibat makanan itu.
Demikian juga ketika kita lebih mementingkan pikiran dimana kita selalu mencari pemahaman dengan membaca koran dan ilmu pengetahuan lainnya tanpa mempedulikan raga dan jiwa, maka kita juga akan sakit. Umumnya sakit maag, lever dan lainnya.
Oleh karena itu, ketiga hal tersebut harus dijaga keseimbangannya karena ketiganya merupakan titipan yang sangat berharga dari GUSTI ALLAH. Kalau ketiga hal tersebut sudah bisa dijaga dengan seadil-adilnya, maka kita bisa disebut manusia yang senantiasa menjaga amanah dari GUSTI ALLAH dan digelari sebagai "Manungso Sejati".
Minggu, 01 Juni 2008
Empat Tingkat Mendekatkan Diri
Banyak cara untuk menggali potensi diri untuk bisa mendekat pada GUSTI
ALLAH. Salah satunya adalah dengan cara berdiam diri dan senantiasa
mengingat keberadaan TUHAN. Orang yang beragama Islam menyebut cara
berdiam diri mengingat ALLAH itu dengan sebutan Tafakur.
Tapi pada kebudayaan Jawa, orang menyebut cara itu dengan kata "Semedi". Menilik dari kata tersebut, Semedi berasal dari kata Samadhi yang juga berasal dari India. Agama Hindu dan Buddha yang berasal dari India lebih dulu merambah pulau Jawa daripada Islam. Mereka memperkenalkan cara untuk lebih khusuk menghadap ALLAH dengan jalan
Samadhi.
Namun, orang Jawa lebih suka untuk mempermudah pengucapan sehingga tidak sulit untuk diungkapkan. Akhirnya orang Jawa pun sepakat dengan kata "SEMEDI". Meski berbeda
ucapan, tetapi artinya sama antara Semedi, Tafakur dan Samadhi yang sama-sama berupaya untuk mendekatkan diri pada GUSTI ALLAH.
Dan kata Semedi, Tafakur maupun Samadhi tersebut akhirnya disesuaikan dengan bahasa Indonesia yang akhirnya disebut Meditasi. Jadi, kita memiliki empat kata yakni Meditasi, Semedi, Samadhi dan Tafakur yang semuanya memiliki arti yang sama.
Sebenarnya, antara kata Semedi atau Samadhi dengan meditasi memiliki tingkat kata yang berbeda. Artinya, Semedi atau Samadhi memiliki tingkat arti yang lebih tinggi dibandingkan meditasi. Ada empat tahap tingkat untuk mendekatkan diri pada GUSTI ALLAH dari dasar ke yang paling tinggi yakni perenungan, kontemplasi, meditasi dan
samadhi/semedi.
Perenungan
Untuk tingkat awal yakni Perenungan. Namanya saja, perenungan, maka yang dilakukan adalah berdiam diri dengan merenungkan penciptaan ALLAH. Dengan melakukan perenungan
itu, maka akan mampu memiliki wawasan bahwa GUSTI ALLAH itu Maha Besar karena telah menjaga keseimbangan alam semesta ini.
Kontemplasi
Kontemplasi merupakan upaya berdiam diri, tetapi lebih dalam dibandingkan perenungan. Artinya, upaya kontemplasi dilakukan sembari dibarengi dengan konsentrasi terhadap
ALLAH.
Meditasi
Sedangkan Meditasi juga berdiam diri, tetapi lebih terfokus pada relaksasi dan mencari ketentraman diri. Dengan hati yang tentram, maka akan mampu menggapai GUSTI
ALLAH.
Samadhi/Semedi
Samadhi atau Semedi merupakan langkah berdiam diri dengan khusuk berkonsentrasi penuh untuk menghadap GUSTI ALLAH. Kadang-kadang saking asyiknya melakukan Samadhi/Semedi, si pelaku akan lepas dari raganya. Hal ini di kepercayaan Jawa disebut "NGROGO SUKMO".
Kalau Anda masih dalam tahap perenungan, maka tidak usah berkecil hati. Teruskan usaha Anda dan yakinlah bahwa Anda akan bisa melakukannya. Yang lebih istimewa lagi,
tahap-tahap dalam berdiam diri untuk mendekatkan diri pada ALLAH itu apabila dilakukan setiap hari, maka Anda akan berhasil mendapatkan apa yang Anda cari.
GUSTI ALLAH sangat suka terhadap orang-orang yang berniat untuk mendekatkan diri padaNYA. Kalau tidak sekarang, kapan lagi Anda akan mendekatkan diri padaNYA? Ingat, umur kita hanya ALLAH sendiri yang tahu, kita manusia hanya menjalani saja.
Tapi pada kebudayaan Jawa, orang menyebut cara itu dengan kata "Semedi". Menilik dari kata tersebut, Semedi berasal dari kata Samadhi yang juga berasal dari India. Agama Hindu dan Buddha yang berasal dari India lebih dulu merambah pulau Jawa daripada Islam. Mereka memperkenalkan cara untuk lebih khusuk menghadap ALLAH dengan jalan
Samadhi.
Namun, orang Jawa lebih suka untuk mempermudah pengucapan sehingga tidak sulit untuk diungkapkan. Akhirnya orang Jawa pun sepakat dengan kata "SEMEDI". Meski berbeda
ucapan, tetapi artinya sama antara Semedi, Tafakur dan Samadhi yang sama-sama berupaya untuk mendekatkan diri pada GUSTI ALLAH.
Dan kata Semedi, Tafakur maupun Samadhi tersebut akhirnya disesuaikan dengan bahasa Indonesia yang akhirnya disebut Meditasi. Jadi, kita memiliki empat kata yakni Meditasi, Semedi, Samadhi dan Tafakur yang semuanya memiliki arti yang sama.
Sebenarnya, antara kata Semedi atau Samadhi dengan meditasi memiliki tingkat kata yang berbeda. Artinya, Semedi atau Samadhi memiliki tingkat arti yang lebih tinggi dibandingkan meditasi. Ada empat tahap tingkat untuk mendekatkan diri pada GUSTI ALLAH dari dasar ke yang paling tinggi yakni perenungan, kontemplasi, meditasi dan
samadhi/semedi.
Perenungan
Untuk tingkat awal yakni Perenungan. Namanya saja, perenungan, maka yang dilakukan adalah berdiam diri dengan merenungkan penciptaan ALLAH. Dengan melakukan perenungan
itu, maka akan mampu memiliki wawasan bahwa GUSTI ALLAH itu Maha Besar karena telah menjaga keseimbangan alam semesta ini.
Kontemplasi
Kontemplasi merupakan upaya berdiam diri, tetapi lebih dalam dibandingkan perenungan. Artinya, upaya kontemplasi dilakukan sembari dibarengi dengan konsentrasi terhadap
ALLAH.
Meditasi
Sedangkan Meditasi juga berdiam diri, tetapi lebih terfokus pada relaksasi dan mencari ketentraman diri. Dengan hati yang tentram, maka akan mampu menggapai GUSTI
ALLAH.
Samadhi/Semedi
Samadhi atau Semedi merupakan langkah berdiam diri dengan khusuk berkonsentrasi penuh untuk menghadap GUSTI ALLAH. Kadang-kadang saking asyiknya melakukan Samadhi/Semedi, si pelaku akan lepas dari raganya. Hal ini di kepercayaan Jawa disebut "NGROGO SUKMO".
Kalau Anda masih dalam tahap perenungan, maka tidak usah berkecil hati. Teruskan usaha Anda dan yakinlah bahwa Anda akan bisa melakukannya. Yang lebih istimewa lagi,
tahap-tahap dalam berdiam diri untuk mendekatkan diri pada ALLAH itu apabila dilakukan setiap hari, maka Anda akan berhasil mendapatkan apa yang Anda cari.
GUSTI ALLAH sangat suka terhadap orang-orang yang berniat untuk mendekatkan diri padaNYA. Kalau tidak sekarang, kapan lagi Anda akan mendekatkan diri padaNYA? Ingat, umur kita hanya ALLAH sendiri yang tahu, kita manusia hanya menjalani saja.
Banyak cara untuk menggali potensi diri untuk bisa mendekat pada GUSTI
ALLAH. Salah satunya adalah dengan cara berdiam diri dan senantiasa
mengingat keberadaan TUHAN. Orang yang beragama Islam menyebut cara
berdiam diri mengingat ALLAH itu dengan sebutan tafakur.
Tapi pada kebudayaan Jawa, orang menyebut cara itu dengan kata "Semedi". Menilik dari kata tersebut, Semedi berasal dari kata Samadhi yang juga berasal dari India. Agama
Hindu dan Buddha yang berasal dari India lebih dulu merambah pulau Jawa daripada Islam. Mereka memperkenalkan cara untuk bisa lebih khusuk menghadap ALLAH dengan jalan Samadhi.
Namun, orang Jawa lebih suka untuk mempermudah pengucapan sehingga tidak sulit untuk diungkapkan. Akhirnya orang Jawa pun sepakat dengan kata "SEMEDI". Meski berbeda
ucapan, tetapi artinya sama antara Semedi, Tafakur dan Samadhi yang sama-sama berupaya untuk mendekatkan diri pada GUSTI ALLAH.
Dan kata Semedi, Tafakur maupun Samadhi tersebut akhirnya disesuaikan dengan bahasa Indonesia yang akhirnya disebut Meditasi. Jadi, kita memiliki empat kata yakni Meditasi, Semedi, Samadhi dan Tafakur yang semuanya memiliki arti yang sama.
Sebenarnya, antara kata Semedi atau Samadhi dengan meditasi memiliki tingkat kata yang berbeda. Artinya, Semedi atau Samadhi memiliki tingkat arti yang lebih tinggi dibandingkan meditasi. Ada empat tahap tingkat untuk mendekatkan diri pada GUSTI ALLAH dari dasar ke yang paling tinggi yakni perenungan, kontemplasi, meditasi dan
samadhi/semedi.
Perenungan
Untuk tingkat awal yakni Perenungan. Namanya saja, perenungan, maka yang dilakukan adalah berdiam diri dengan merenungkan penciptaan ALLAH. Dengan melakukan perenungan itu, maka akan mampu memiliki wawasan bahwa GUSTI ALLAH itu Maha Besar karena telah menjaga keseimbangan alam semesta ini.
Kontemplasi
Kontemplasi merupakan upaya berdiam diri, tetapi lebih dalam dibandingkan perenungan. Artinya, upaya kontemplasi dilakukan sembari dibarengi dengan konsentrasi terhadap ALLAH.
Meditasi
Sedangkan Meditasi juga berdiam diri, tetapi lebih terfokus pada relaksasi dan mencari ketentraman diri. Dengan hati yang tentram, maka akan mampu menggapai GUSTI ALLAH.
Samadhi/Semedi
Samadhi atau Semedi merupakan langkah berdiam diri dengan khusuk berkonsentrasi penuh untuk menghadap GUSTI ALLAH. Kadang-kadang saking asyiknya melakukan Samadhi/Semedi, si pelaku akan lepas dari raganya. Hal ini di kepercayaan Jawa disebut "NGROGO SUKMO".
Kalau Anda masih dalam tahap perenungan, maka tidak usah berkecil hati. Teruskan usaha Anda dan yakinlah bahwa Anda akan bisa melakukannya. Yang lebih istimewa lagi, tahap-tahap dalam berdiam diri untuk mendekatkan diri pada ALLAH itu apabila dilakukan setiap hari, maka Anda akan berhasil mendapatkan apa yang Anda cari.
GUSTI ALLAH sangat suka terhadap orang-orang yang berniat untuk mendekatkan diri padaNYA. Kalau tidak sekarang, kapan lagi Anda akan mendekatkan diri padaNYA? Ingat, umur kita hanya ALLAH sendiri yang tahu, kita manusia hanya menjalani saja.
Tapi pada kebudayaan Jawa, orang menyebut cara itu dengan kata "Semedi". Menilik dari kata tersebut, Semedi berasal dari kata Samadhi yang juga berasal dari India. Agama
Hindu dan Buddha yang berasal dari India lebih dulu merambah pulau Jawa daripada Islam. Mereka memperkenalkan cara untuk bisa lebih khusuk menghadap ALLAH dengan jalan Samadhi.
Namun, orang Jawa lebih suka untuk mempermudah pengucapan sehingga tidak sulit untuk diungkapkan. Akhirnya orang Jawa pun sepakat dengan kata "SEMEDI". Meski berbeda
ucapan, tetapi artinya sama antara Semedi, Tafakur dan Samadhi yang sama-sama berupaya untuk mendekatkan diri pada GUSTI ALLAH.
Dan kata Semedi, Tafakur maupun Samadhi tersebut akhirnya disesuaikan dengan bahasa Indonesia yang akhirnya disebut Meditasi. Jadi, kita memiliki empat kata yakni Meditasi, Semedi, Samadhi dan Tafakur yang semuanya memiliki arti yang sama.
Sebenarnya, antara kata Semedi atau Samadhi dengan meditasi memiliki tingkat kata yang berbeda. Artinya, Semedi atau Samadhi memiliki tingkat arti yang lebih tinggi dibandingkan meditasi. Ada empat tahap tingkat untuk mendekatkan diri pada GUSTI ALLAH dari dasar ke yang paling tinggi yakni perenungan, kontemplasi, meditasi dan
samadhi/semedi.
Perenungan
Untuk tingkat awal yakni Perenungan. Namanya saja, perenungan, maka yang dilakukan adalah berdiam diri dengan merenungkan penciptaan ALLAH. Dengan melakukan perenungan itu, maka akan mampu memiliki wawasan bahwa GUSTI ALLAH itu Maha Besar karena telah menjaga keseimbangan alam semesta ini.
Kontemplasi
Kontemplasi merupakan upaya berdiam diri, tetapi lebih dalam dibandingkan perenungan. Artinya, upaya kontemplasi dilakukan sembari dibarengi dengan konsentrasi terhadap ALLAH.
Meditasi
Sedangkan Meditasi juga berdiam diri, tetapi lebih terfokus pada relaksasi dan mencari ketentraman diri. Dengan hati yang tentram, maka akan mampu menggapai GUSTI ALLAH.
Samadhi/Semedi
Samadhi atau Semedi merupakan langkah berdiam diri dengan khusuk berkonsentrasi penuh untuk menghadap GUSTI ALLAH. Kadang-kadang saking asyiknya melakukan Samadhi/Semedi, si pelaku akan lepas dari raganya. Hal ini di kepercayaan Jawa disebut "NGROGO SUKMO".
Kalau Anda masih dalam tahap perenungan, maka tidak usah berkecil hati. Teruskan usaha Anda dan yakinlah bahwa Anda akan bisa melakukannya. Yang lebih istimewa lagi, tahap-tahap dalam berdiam diri untuk mendekatkan diri pada ALLAH itu apabila dilakukan setiap hari, maka Anda akan berhasil mendapatkan apa yang Anda cari.
GUSTI ALLAH sangat suka terhadap orang-orang yang berniat untuk mendekatkan diri padaNYA. Kalau tidak sekarang, kapan lagi Anda akan mendekatkan diri padaNYA? Ingat, umur kita hanya ALLAH sendiri yang tahu, kita manusia hanya menjalani saja.
Sabtu, 15 Maret 2008
Belajar Pada GURU SEJATI

Mau tidak mau, makhluk hidup harus mempercayai pada sesuatu yang ghaib. Apabila tidak mempercayai hal yang ghaib, berarti kita sudah tidak percaya pada GUSTI ALLAH. Lho kok bisa? Jelas bisa. Alasannya, bukankah GUSTI ALLAH itu ghaib? Antara manusia dan GUSTI ALLAH terdapat ribuan hijab yang menutupi sehingga kita tidak bisa melihatNYA secara langsung.
Bahkan kita tidak bisa merabaNYA karena GUSTI ALLAH itu sifatnya tidak wujud.Kalau wujud, berarti bukanlah GUSTI ALLAH.
Itulah yang harus kita jadikan sebagai pegangan agar kita tidak terperdaya dalam memahami dan menyembah pada yang bukan GUSTI ALLAH.
Nah, seperti dijelaskan GUSTI ALLAH lewat Al'Quran, ALLAH sendiri sangat dekat. GUSTI ALLAH dalam Al'Quran menjelaskan yang kurang lebih artinya, "Kalau engkau bertanya tentang AKU, AKU ini sangat dekat. Bahkan lebih dekat dari urat lehermu sendiri." Dari situlah kita bisa melihat bahwa GUSTI ALLAH itu dekat.
Pada tubuh seluruh manusia terdapat GUSTI ALLAH. Dimanakah posisiNYA? GUSTI ALLAH itu berada pada hati nurani yang paling dalam. Hati manusia dibagi menjadi 2 bagian yakni hati besar dan hati kecil. Perlu diketahui bahwa hati besar selalu berkata bohong, menghasut, iri, dengki dan lainnya. Sedangkan hati kecil selalu mengatakan hal-hal yang bersifat kebaikan, sabar, lembut dll.
Pada hati kecil itulah GUSTI ALLAH bersemayam. Namun kita tidak bisa memburu keberadaan GUSTI ALLAH dikarenakan adanya ribuan hijab yang menghalangi itu sendiri. GUSTI ALLAH akan menyatu dan menguasai tubuh kita, jika GUSTI ALLAH sendiri yang berkehendak.
Dalam pikiran manusia juga dibagi menjadi 2 yaitu pikiran materiil dan spirituil. Kalau pikiran materiil yang lebih menonjol, tentu manusia itu akan memburu hal-hal yang bersifat materiil seperti kekayaan, kemakmuran, pangkat, jabatan, lawan jenis dan lainnya. Namun kalau pikiran spirituil yang menonjol, maka seorang manusia boleh dikatakan hampir mirip dengan malaikat. Oleh karena itu, antara sisi materiil dan spirituil haruslah seimbang. Di satu sisi kita wajib bekerja untuk mencari materi, di sisi lain kita juga wajib untuk manembah dan memuji kebesaran GUSTI.
Untuk mendalami sisi spirituil, GUSTI ALLAH menciptakan piranti yang disebut dengan GURU SEJATI. Sebetulnya antara GUSTI ALLAH dan GURU SEJATI itu pada prinsipnya sama. Jika seseorang mulai memiliki keinginan dan kerinduan terhadap TUHAN, maka GURU SEJATI itulah yang akan memandu untuk lebih bisa mendekatkan diri pada GUSTI ALLAH.
Bahkan banyak orang yang berpendapat bahwa GURU SEJATI yang ada pada manusia itu adalah NUR MUHAMMAD. Pendapat itupun ada benarnya. Pasalnya, manusia yang hidup di dunia ini selalu memiliki NUR MUHAMMAD. NUR MUHAMMAD itulah yang menjadi penghubung antara seorang manusia dengan GUSTI ALLAH.
Nah, biasanya GURU SEJATI itu senantiasa mengajarkan lewat kata hati kita. Ia senantiasa menggerakkan rasa dan hati kita untuk selalu mendekat kepada GUSTI. Bahkan tidak jarang GURU SEJATI juga mengajarkan apa yang harus dilakukan dalam sebuah ritual. GURU SEJATI bersemayam dalam rasa.
Contohnya, pernahkah Anda merasa kesepian walaupun berada di tengah keramaian? Nah, kalau Anda sedang dalam posisi seperti itu, cobalah untuk mendengarkan hati kecil Anda dan mengikuti rasa yang muncul. Sebab kata hati kecil dan rasa itu adalah GURU SEJATI Anda sendiri. Setiap manusia memiliki GURU SEJATI. Tergantung manusia itu sendiri apakah GURU SEJATI tersebut lebih banyak didengarkan ataupun lebih memilih untuk mendengarkan hati besar yang dipenuhi oleh setan.
Untuk itu, kenalilah GURU SEJATI Anda. Dengan mengenali GURU SEJATI Anda, maka Anda akan bisa selalu 'bermesraan' dengan GUSTI ALLAH. Paling tidak, rasa yang akan muncul adalah kedamaian dan ketentraman yang ada dalam diri Anda, meskipun Anda tidak memiliki uang. Penasaran? Coba Anda praktekkan sendiri.
Jumat, 01 Februari 2008
Belajarlah Mati Sebelum Kematian itu Datang

"Belajarlah
Mati sebelum kematian itu datang". Kata-kata itu sepertinya hanya
sebuah kata iseng yang diucapkan. Tetapi jika kita telaah dan pahami
secara rinci, kata-kata itu mengandung makna yang sangat dalam dan sarat
ilmu.
Belajar mati disini bukanlah dalam artian kita harus bunuh diri untuk bisa mengecap sebuah kematian. Tetapi arti kata belajar mati di sini adalah mematikan segala bentuk hawa nafsu untuk bisa bertemu dengan Sang Khaliq.
Orang yang beragama Islam juga memiliki kata-kata seperti itu yakni "Sholatlah kamu sebelum kamu disholati orang lain". Artinya, bagi orang yang beragama Islam harus menjalankan sholat yang sejati. Bukan sholat yang hanya sekedar "gugur kewajiban" saja. Tetapi sholat disini adalah mengenal, menghadap, menyembah Allah. Dengan sholat, kita bisa mengenali Allah. Dengan Sholat kita bisa berbicara dan berkomunikasi dengan Allah. Seusai sholat, kita akan bisa merasakan kenikmatan dalam berkomunikasi dengan Allah.
Kembali pada pokok bahasan belajar mati. Dalam hal ini, belajar mati adalah berdiam diri (meditasi/samadhi) dengan mematikan hawa nafsu, pancaindera dan hal-hal lain yang berhubungan dengan nafsu. Semata-mata yang bergerak adalah hati dan rasa. Rasa sejati dengan bimbingan dari Gusti ALLAH lewat Guru Sejati. Dengan samadhi/meditasi, maka seseorang bisa mematikan diri sendiri dan berkontemplasi, konsentrasi menghadap khusuk pada Gusti ALLAH.
Dengan samadhi/meditasi, kita meninggalkan dunia ini untuk sementara waktu dan memasuki alam lain yakni alam jabarut, malakut hingga alam ilahiah. Dengan memasuki berbagai alam ini kita akan bisa melihat kebesaran dari Gusti ALLAH akan semua makhluk ciptaannya. Jika hal itu sering kita lakukan, maka sewaktu-waktu jika kita dipanggil oleh Gusti ALLAH (meninggal dunia), kita sudah siap.
Mengetuk Pintu Gusti ALLAH
Tidak ada bedanya tatakrama ketika kita bertamu dengan ketika kita menghadap pada Gusti ALLAH. Kalau kita bertamu ke rumah rekan atau sahabat, tentunya harus mengetuk pintu terlebih dulu sebelum siempunya rumah keluar. Demikian pula ketika hendak menghadap pada Gusti ALLAH. Kita harus mengetuk pintuNYA.
Mengetuk pintuNYA itu tidak dalam artian yang sebenarnya. Tetapi dalam artian meminta ijinNYA untuk bisa masuk ke alamnya. Manusia tidak akan bisa masuk dengan sendirinya tanpa mengetuk pintu Gusti ALLAH itu. Cara mengetuk pintu tersebut adalah dengan doa yang disebut dengan doa kunci.
Doa tersebut hendaknya dibaca tujuh kali dengan menahan napas setiap kali membacanya. Doa tersebut berbunyi:
Gusti Ingkang Moho Suci
Kulo Nyuwun Pangapuro Dhumateng Gusti Ingkang Moho Suci
Sirrullah, Dzatullah, Sifatullah
Kulo Sejatining Satrio Nyuwun Panguoso
Kulo Nyuwun Kanggo Tumindhake Satrio Sejati
Kulo Nyuwun Kanggo Anyirnakake Tumindak Ingkang Luput.
Dengan mengetuk pintu Gusti ALLAH tersebut, maka kita sudah bisa melanglang buana milik ALLAH yang tidak semua orang bisa memasukinya. Tentu saja, semua itu atas izin dari Gusti ALLAH sendiri sebagai pemilik alam semesta. Mudah-mudahan artikel tersebut dapat berguna. Rahayu...Rahayu....Rahayu....
Belajar mati disini bukanlah dalam artian kita harus bunuh diri untuk bisa mengecap sebuah kematian. Tetapi arti kata belajar mati di sini adalah mematikan segala bentuk hawa nafsu untuk bisa bertemu dengan Sang Khaliq.
Orang yang beragama Islam juga memiliki kata-kata seperti itu yakni "Sholatlah kamu sebelum kamu disholati orang lain". Artinya, bagi orang yang beragama Islam harus menjalankan sholat yang sejati. Bukan sholat yang hanya sekedar "gugur kewajiban" saja. Tetapi sholat disini adalah mengenal, menghadap, menyembah Allah. Dengan sholat, kita bisa mengenali Allah. Dengan Sholat kita bisa berbicara dan berkomunikasi dengan Allah. Seusai sholat, kita akan bisa merasakan kenikmatan dalam berkomunikasi dengan Allah.
Kembali pada pokok bahasan belajar mati. Dalam hal ini, belajar mati adalah berdiam diri (meditasi/samadhi) dengan mematikan hawa nafsu, pancaindera dan hal-hal lain yang berhubungan dengan nafsu. Semata-mata yang bergerak adalah hati dan rasa. Rasa sejati dengan bimbingan dari Gusti ALLAH lewat Guru Sejati. Dengan samadhi/meditasi, maka seseorang bisa mematikan diri sendiri dan berkontemplasi, konsentrasi menghadap khusuk pada Gusti ALLAH.
Dengan samadhi/meditasi, kita meninggalkan dunia ini untuk sementara waktu dan memasuki alam lain yakni alam jabarut, malakut hingga alam ilahiah. Dengan memasuki berbagai alam ini kita akan bisa melihat kebesaran dari Gusti ALLAH akan semua makhluk ciptaannya. Jika hal itu sering kita lakukan, maka sewaktu-waktu jika kita dipanggil oleh Gusti ALLAH (meninggal dunia), kita sudah siap.
Mengetuk Pintu Gusti ALLAH
Tidak ada bedanya tatakrama ketika kita bertamu dengan ketika kita menghadap pada Gusti ALLAH. Kalau kita bertamu ke rumah rekan atau sahabat, tentunya harus mengetuk pintu terlebih dulu sebelum siempunya rumah keluar. Demikian pula ketika hendak menghadap pada Gusti ALLAH. Kita harus mengetuk pintuNYA.
Mengetuk pintuNYA itu tidak dalam artian yang sebenarnya. Tetapi dalam artian meminta ijinNYA untuk bisa masuk ke alamnya. Manusia tidak akan bisa masuk dengan sendirinya tanpa mengetuk pintu Gusti ALLAH itu. Cara mengetuk pintu tersebut adalah dengan doa yang disebut dengan doa kunci.
Doa tersebut hendaknya dibaca tujuh kali dengan menahan napas setiap kali membacanya. Doa tersebut berbunyi:
Gusti Ingkang Moho Suci
Kulo Nyuwun Pangapuro Dhumateng Gusti Ingkang Moho Suci
Sirrullah, Dzatullah, Sifatullah
Kulo Sejatining Satrio Nyuwun Panguoso
Kulo Nyuwun Kanggo Tumindhake Satrio Sejati
Kulo Nyuwun Kanggo Anyirnakake Tumindak Ingkang Luput.
Dengan mengetuk pintu Gusti ALLAH tersebut, maka kita sudah bisa melanglang buana milik ALLAH yang tidak semua orang bisa memasukinya. Tentu saja, semua itu atas izin dari Gusti ALLAH sendiri sebagai pemilik alam semesta. Mudah-mudahan artikel tersebut dapat berguna. Rahayu...Rahayu....Rahayu....
Rabu, 09 Januari 2008
PEPALI KI AGENG SELO (1)
1. pepali-ku ajinen mbrekati
tur selamet sarta kuwarasan
pepali iku mangkene :
- awja agawe angkuh
- awja ladak lan ajwa jail
- awja ati serakah
- awja celimut
- awja mburu aleman
- awja ladak, wong ladak pan gelis mati
- lan ajwa laku ngiwa
ARTINYA : ajaran hargai agar memberkahi
lagipun selamat, sehat
pepali itu demikian :
- jangan berbuat angkuh
- jangan bengis dan jangan jahil
- jangan tamak hatimu
- jangan pun panjang tangan
- jangan memburu pujian
- jangan angkuh, yang angkuh lekat koit
- jangan hendak bersikap negatif/buruk
2. padha sira titirua kaki
jalma patrap iku kasihana
iku arahen sawabe
ambrekati wong iku
nora kena sira wadani
tiniru iku kena
pambegane alus
yen angucap ngarah-arah
yen alungguh nora pegat ngati-ati
nora gelem gumampang
3. sapa sapa wong kang gawe becik
nora wurung mbenjang manggih harja
tekeng saturun-turune
yen sira dadi agung
amarentah marang wong cilik
awja sedaya-daya
mundhak ora tulus
nggonmu dadi pangauban
awja nacah, marentaha kang patitis
nganggowa tepa-tepa
4. padha sira ngestokena kaki
tutur ingsun kang nedya utama
angharjani sarirane
wya nganti seling surup
yen tumpangsuh iku niwasi
hanggung atelanjukan
temah sasar susur
tengraning jalma utama
bisa nimbang kang ala lawan kang becik
rasa rasaning kembang
5. kawruhana pambengkasing kardi
pakuning rat lelananging jagad
pambengkasing jagad kabeh
amung budi rahayu
setya tuhu marang HYANG WIDHI
warastra pira-pira
kang hanggung ginunggung
kasor dening tyas raharja
harjaning rat punika pakuning bumi
kabeh kapiyarsakna
6. poma poma anak putu mami
awja sira ngegungake akal
wong akal ilang baguse
dipun idhep wong bagus
bagus iku dudu mas picis
lawan dudu sandhangan
dudu rupa iku
bagus iku nyatanira
yen dinulu asih semune prakati
patrap solah prasaja
7. lawan awja dhemen ngaji-aji (mujizat)
awja sira kepengin kedhotan
kadigdayan apa dene
awja sira mbedhukun
awja ndhalang lan awja grami
awja budi-sudhagar
awja watak-kaum
kang den ajab mung ruruba
kaum iku padune cukeng abengis
iku kaum sanyata
8. kumbah krakah cukit lan andulit
miwah jagal melanten kumala
iku nora dadi gedhe
wajib sinirik iku
pan wus awja ngaruh-aruhi
awja doyan sembrana
matuh analutuh
niwasi barang karya
wong sembrana temahane nora becik
nyenyenges nanjak-nanjak
9. pae wong MAKRIFAT sejati
tingkah una-unine prasaja
dadi panengran gedhene
eseme kadi juruh
saujare manis trus ati
iku ingaran dhomas
wong bodho puniku
ingkang jero isi emas
ingkang nduwe bale kencana puniki
bola-bali kinenca
10. keh tepane mring sagun ging urip
pan uninga ati tengu gengnya
ingkang sasingkal gedhene
endhog bisa keluruk
miwah geni binakar warih
iku talining barat (angin)
kawruhana iku
manjing atos nora renggang
bisa mrojol ing kerep dipun kawruhi
kang cendhak kethokana
11. awja watak sira sugih wani
awja watak sok ngajak tukaran
awja ngendelke kuwanen
awja watak anguthuh
awja ewanan lan awja jail
awja ati canthula
ala kang tinemu
sing sapa atine ala
nora wurung bilahi pinanggih wuri
wong ala nemu ala
12. poma poma anak putu mami
awja sira mengeran busana
awja ngendelken pintere
awja anggunggung laku
ing wong urip dipun titeni
aketareng basa
katandha ing semu
semu becik, semu ala
sayektine ana tingkah solah muni
katon amawa cahya
13. awja sira amadhakken jalmi
amarentah kaya sato kewan
kebo sapi miwah iwen
awja sira prih weruh
kaya uwong pan nora ngreti
awja kaya si Soma
kebone pinukul
sababe sinau maca
yen bisoa nora beda padha urip
mulane awewuda
14. ayam ginusah yen munggah panti
atanapi lamun mangan beras
kebo ngadhangan bae
iku wong olah semu
lamun sira tetanggan kaki
yen layah ingaruhan
aruhana iku
yen tan layak enengena
apan iku nggemeni darbek pribadi
pan dudu rayatira
15. patrapena rayatira kaki
anak putu sanak presanakan
enakena ing atine
lamun sira amuruk
weruhena yen durung sisip
yen wus ketiwasan
awja sira tutuh
kelangan tambah duraka
yen wus tiwas sira umpah-umpahi kaki
tur iku mundhak apa
16. bumi geni banyu miwah angin
pan srengenge lintang lan rembulan
iku kabeh aneng kene
segara jurang gunung
padhang peteng padha sumandhing
adoh kalawan perak
wus aneng sireku
mulane ana wong ngucap
sapa bisa wong iku njaring angin
jaba jalma utama
17. tama temen tumanem ing ati
atinira tan nganggo was-uwas
waspada marang ciptane
tan ana liyanipun
muhung cipta harjaning ragi
miwah harjaning wuntat
ciptane nrus kalbu
nuhoni ingkang wawenang
wenangira kawula punika pesthi
sumangga ring kadarman
tur selamet sarta kuwarasan
pepali iku mangkene :
- awja agawe angkuh
- awja ladak lan ajwa jail
- awja ati serakah
- awja celimut
- awja mburu aleman
- awja ladak, wong ladak pan gelis mati
- lan ajwa laku ngiwa
ARTINYA : ajaran hargai agar memberkahi
lagipun selamat, sehat
pepali itu demikian :
- jangan berbuat angkuh
- jangan bengis dan jangan jahil
- jangan tamak hatimu
- jangan pun panjang tangan
- jangan memburu pujian
- jangan angkuh, yang angkuh lekat koit
- jangan hendak bersikap negatif/buruk
2. padha sira titirua kaki
jalma patrap iku kasihana
iku arahen sawabe
ambrekati wong iku
nora kena sira wadani
tiniru iku kena
pambegane alus
yen angucap ngarah-arah
yen alungguh nora pegat ngati-ati
nora gelem gumampang
3. sapa sapa wong kang gawe becik
nora wurung mbenjang manggih harja
tekeng saturun-turune
yen sira dadi agung
amarentah marang wong cilik
awja sedaya-daya
mundhak ora tulus
nggonmu dadi pangauban
awja nacah, marentaha kang patitis
nganggowa tepa-tepa
4. padha sira ngestokena kaki
tutur ingsun kang nedya utama
angharjani sarirane
wya nganti seling surup
yen tumpangsuh iku niwasi
hanggung atelanjukan
temah sasar susur
tengraning jalma utama
bisa nimbang kang ala lawan kang becik
rasa rasaning kembang
5. kawruhana pambengkasing kardi
pakuning rat lelananging jagad
pambengkasing jagad kabeh
amung budi rahayu
setya tuhu marang HYANG WIDHI
warastra pira-pira
kang hanggung ginunggung
kasor dening tyas raharja
harjaning rat punika pakuning bumi
kabeh kapiyarsakna
6. poma poma anak putu mami
awja sira ngegungake akal
wong akal ilang baguse
dipun idhep wong bagus
bagus iku dudu mas picis
lawan dudu sandhangan
dudu rupa iku
bagus iku nyatanira
yen dinulu asih semune prakati
patrap solah prasaja
7. lawan awja dhemen ngaji-aji (mujizat)
awja sira kepengin kedhotan
kadigdayan apa dene
awja sira mbedhukun
awja ndhalang lan awja grami
awja budi-sudhagar
awja watak-kaum
kang den ajab mung ruruba
kaum iku padune cukeng abengis
iku kaum sanyata
8. kumbah krakah cukit lan andulit
miwah jagal melanten kumala
iku nora dadi gedhe
wajib sinirik iku
pan wus awja ngaruh-aruhi
awja doyan sembrana
matuh analutuh
niwasi barang karya
wong sembrana temahane nora becik
nyenyenges nanjak-nanjak
9. pae wong MAKRIFAT sejati
tingkah una-unine prasaja
dadi panengran gedhene
eseme kadi juruh
saujare manis trus ati
iku ingaran dhomas
wong bodho puniku
ingkang jero isi emas
ingkang nduwe bale kencana puniki
bola-bali kinenca
10. keh tepane mring sagun ging urip
pan uninga ati tengu gengnya
ingkang sasingkal gedhene
endhog bisa keluruk
miwah geni binakar warih
iku talining barat (angin)
kawruhana iku
manjing atos nora renggang
bisa mrojol ing kerep dipun kawruhi
kang cendhak kethokana
11. awja watak sira sugih wani
awja watak sok ngajak tukaran
awja ngendelke kuwanen
awja watak anguthuh
awja ewanan lan awja jail
awja ati canthula
ala kang tinemu
sing sapa atine ala
nora wurung bilahi pinanggih wuri
wong ala nemu ala
12. poma poma anak putu mami
awja sira mengeran busana
awja ngendelken pintere
awja anggunggung laku
ing wong urip dipun titeni
aketareng basa
katandha ing semu
semu becik, semu ala
sayektine ana tingkah solah muni
katon amawa cahya
13. awja sira amadhakken jalmi
amarentah kaya sato kewan
kebo sapi miwah iwen
awja sira prih weruh
kaya uwong pan nora ngreti
awja kaya si Soma
kebone pinukul
sababe sinau maca
yen bisoa nora beda padha urip
mulane awewuda
14. ayam ginusah yen munggah panti
atanapi lamun mangan beras
kebo ngadhangan bae
iku wong olah semu
lamun sira tetanggan kaki
yen layah ingaruhan
aruhana iku
yen tan layak enengena
apan iku nggemeni darbek pribadi
pan dudu rayatira
15. patrapena rayatira kaki
anak putu sanak presanakan
enakena ing atine
lamun sira amuruk
weruhena yen durung sisip
yen wus ketiwasan
awja sira tutuh
kelangan tambah duraka
yen wus tiwas sira umpah-umpahi kaki
tur iku mundhak apa
16. bumi geni banyu miwah angin
pan srengenge lintang lan rembulan
iku kabeh aneng kene
segara jurang gunung
padhang peteng padha sumandhing
adoh kalawan perak
wus aneng sireku
mulane ana wong ngucap
sapa bisa wong iku njaring angin
jaba jalma utama
17. tama temen tumanem ing ati
atinira tan nganggo was-uwas
waspada marang ciptane
tan ana liyanipun
muhung cipta harjaning ragi
miwah harjaning wuntat
ciptane nrus kalbu
nuhoni ingkang wawenang
wenangira kawula punika pesthi
sumangga ring kadarman
