Selamat datang

Minggu, 21 Juni 2015

Jumat, 19 Juni 2015

Petikan Rubaiyat Umar Khayyam

Mari kita ikuti kisah seorang anak manusia
dan kita lupakan usia
dengan keindahan bintang di malam hari
tidur tak mampu memperpanjang usia manusia
berjaga malam
juga tidak mengurangi umur manusia sedikit pun~

Sekeping roti untuk sehari atau dua penghabisan
Setitis air di kendi yang pecah berkeping
Dengan ini, apa perlunya aku tunduk kepada kepala orang lain
Apa sebab aku harus merangkak kepada pegawai bawahan?~

Lawanku keliru menyebutku ahli falsafah
Tuhan tahu aku bukan yang mereka katakan
kerana terlanjur lahir di tempat yang menyedihkan ini
tak perlu aku tahu siapa aku sebenarnya~

Oh mata, kau tak buta, lihat liang lahad itu
dan lihat dunia yang penuh kekacauan dan sengsara
raja, kadi dan putera, semua terkubur di dalam tanah
lihat si wajah cantik di rahang-rahang semut~

Camar cukup bahagia dengan tulang belulang
mengapa harus mencuri dari meja si kaya?
aku telah punya sekeping roti besar
tak perlu menghamba kepada sesiapa pun buat mendapat makanan~

Bukan kemiskinan yang mendorongku datang kepadamu
Aku tak miskin, sebab keinginanku bersahaja
Yang kucari darimu hanyalah kehormatan
Kehormatan seorang yang bebas dan berdiri tegak~

Masa kini dan di masa depan orang akan datang dan berkata, “Inilah aku!”
 Hadiah emas atau perak ia berikan, sambil berkata, “Inilah aku!”
 Namun ketika suatu masa dalam hidupnya ia jatuh sakit
 Maut memerangkap dan berkata, “Inilah aku!”~

Kalam Loh Mahfuz mencatat…
Dan sesudah mencatat…
Lagi mencatat…
Segala doa dan ikhtiar…
Tidak dapat memadamkan catatan Ilahi….
Biarpun hanya sekerat baris……..
Pun seberapa banyak air mata….
Sepatah pun tidak akan terhakis…..
Catatan Tuhan Yang Maha Menyayangi.~